Bohong, Bohong dan Bohong….!

Category:

Bohong adalah sebuah perbuatan yang berdosa, tapi setiap manusia biasa pasti pernah berbohong. Ada yang mengatakan bohongnya karena terpaksa, demi kebaikan ataupun memang kebiasaan. Tapi yang namanya bohong tetap saja bohong.

Ada yang bilang lebih baik diam saja daripada bohong karena satu kebohongan akan melahirkan kebohongan-kebohongan berikutnya. Sekali kita berbohong maka untuk menutupi kebohongan itu kita harus berbohong lagi, kalau tidak maka kebohongan itu akan terbongkar. Tapi sepintar apapun orang menyimpan bangkai tetap akan tercium baunya juga. Jadi yang namanya kebohongan akan kelihatan juga.

Kadang aku berfikir untuk bisa membohongi diri sendiri, tapi ternyata tidak bisa. Kadang aku ingin mengelak bahwa sesuatu itu tidak benar, tapi hati ini tetep saja tahu. Padahal untuk berbohong kepada orang sangatlah mudah. Tinggal mengucapkan apa yang bukan sebenarnya sudah menjadi kebohongan kepada orang lain.

Sering dalam diri ini ingin tidak tahu masalah yang terjadi, sering ingin melupakannya ataupun menganggap itu tak ada. Hati ingin berbohong, tetapi kok tidak bisa. Yang bisa kulakukan hanya mengelak dan pura-pura tidak tahu. Tetapi tetap saja hati ini merasa ada yang aneh.

Bagaimana caranya agar kita bisa berbohong pada diri sendiri? Apakah itu mungkin? Aku rasa tidak ada caranya, yang ada hanya kepura-puraan bukan kebohongan. Hidup hanya akan penuh dengan sandiwara belaka. Walaupun sebenarnya hidup memang sandiwara, dimana kita sebagai dalang dan sekaligus jadi wayangnya. Kita sendiri yang menentukan peran main kita.

Sandiwara dalam hidup juga bisa disebut kebohongan, karena itu berarti tidak menunjukkan siapa kita sebenarnya. Tapi orang kadang memiliki banyak peran dalam kehidupan, sehingga ia sendiri lupa mana jati diri dia yang sesunguhnya. Hidup sebenarnya mengalir dan janganlah terbawa arus aliran itu. Tapi sering orang itu terseret kedalam arus tanpa dia sadari.

Kunci dari semua itu adalah mulut dan hati. Kedua buah benda ini harus disinkronkan, atau disejajarkan agar semua berjalan dengan benar. Mulut bisa berbohong, tapi hati tidaklah bisa, karena hati tahu mana yang benar dan mana yang tidak benar.

Jagalah mulumu karena mulut adalah senjata paling menakutkan di dunia, dia bisa membuat kemuliaan ataupun kehancuran dunia. Gunakan mulutmu agar menjadi senjata yang memuliakan dirimu dan dunia ini. Ajining diri seko lathi. Fakhrudin Selengkapnya...

JATUH DULU BARU BANGUN

Category:

Orang bilang hidup itu bagai roda yang berputar, kadang ada di atas kadang ada dibawah. Pernyataan ini benar adanya dan harus disikapi dan dipahami dengan benar. Kadang aku berfikir bagaimana kalau ketika kita sudah berada diatas rodanya kita ganjal saja biar tidak ke bawah. Yah pemikiran sempit yang memang belum ketemu caranya, hehehe…

Dalam menjalani hidup ini, aku berfikir secara sederhana saja dengan mempercayai bahwa apa yang terjadi adalah yang terbaik. Semua berawal dari kepercayaan kepada Allah, kepercayaan adanya qodzo dan qodar dan percaya bahwa Dialah Yang Maha Adil. Apa yang Dia berikan akan menjadi jalan terbaik buat semua hamba-Nya, akan tetapi banyak yang tidak menyadari hal itu.

Mendengar lagu dari group band D’Masiv lumayan menginspirasi dalam menjalani hidup ini. Jangan menyerah, syukuri apa yang ada dan hidup adalah anugerah, ini tepat sekali. Dalam hidup memang tak boleh menyerah, kita harus berjuang untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Seseorang tidak akan berubah hidupnya tanpa ia mau mengubahnya sendiri.

Aku pernah mendengar juga ungkapan bahwa pengalaman adalah pelajaran paling berharga. Ini benar adanya, tapi semua tergantung dari cara orang tersebut menyikapi pengalaman yang ada. Ada yang berfikir hanya akan mengingat pengalaman yang baik-baik saja, tapi ada juga yang berfikir untuk mengambil pelajaran dari semua pengalaman yang ada. Sungguh sangat bijak jika kita semua mau mengikuti opsi yang terakhir dengan mengambil hikmah dari semua pengalaman yang ada.

Kembali kepada roda kehidupan, semua orang pasti pernah merasakan berada di titik terbawah. Itulah sebuah ujian yang diberikan oleh Allah, tinggal mampukah kita melewatinya dan bagaimana kita mensikapinya. Semua yang diberikan oleh Allah pada kita pasti ada maknanya, begitu pula ketika kita berada diposisi yang tidak mengenakkan.

Semua orang harus merangkak dulu sebelum berlari. Ketika orang sudah bisa berlari pasti ia akan merasakan tersandung dan jatuh. Dalam menjalani hidup orang harus melewati itu semua, harus merasakan yang namanya terjatuh, karena dibalik jatuhnya seseorang itu terkandung makna yang bisa dipetik.

Sering orang mengeluh ketika dia berada di bawah atau terjatuh, itu memang sifat manusiawi. Orang selalu ingin di atas dan tak ingin jatuh tapi hal ini tidak bisa ditolak. Kata pepatah, sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh pula. Yang harus disadari adalah bagaimana cara kita agar dapat bangkit dari kejatuhan itu.

Orang tidak akan basah kalau tidak kena air dan orang tidak akan pernah bangkit jika dia belum pernah jatuh. Bukan berarti mengharuskan orang jatuh dulu untuk maju, kalau tidak pandai menghadapi kejatuhan orang malah bisa semakin terjerumus. Akan tetapi kita harus pandai-pandai mensikapi kejadian tersebut. Bagaimana mengubah sebuah keterpurukan menjadi sebuah kejayaan.

Ambisi yang besar dari seseorang seringlah membawanya kedalam kejatuhan. Hal tersebut karena untuk mencapai ambisi orang harus bertaruh dan siap berkorban demi mencapainya. Ini seperti seleksi alam, bagi yang kuat dia akan bertahan dan menjadi jaya. Akan tetapi bagi dia yang tak bermental baja akan semakin terjerumus semakin dalam.

Sebenarnya orang mempunyai pilihan tengah agar tidak terjerumus. Pilihan itu adalah hidup apa adanya, nerimo kata orang jawa. Tidak perlu ambisius untuk mengejar impian, cukup menerima apa yang telah diberikan. Cukup bijakkah hal ini? Bagi sebagian orang ini adalah pilihan yang tepat, tapi bagi sebagian orang lagi mengatakan tidak tepat. Semua tergantung dari keinginan dan ambisi manusia itu sendiri.

Jatuh bukanlah suatu akhir, tetapi bisa menjadi awal dari sebuah keberhasilan. Kita bisa melihat seorang anak kecil yang sedang belajar berjalan, dia akan jatuh kemudian berusaha bangkit lagi, jalan lagi dan akhirnya bisa berlari. Atau ketika seorang anak kecil belajar mengendarai sepeda, dia tidak serta merta bisa mengimbangkan badan sehingga bisa bersepeda, akan tetapi akan jatuh dulu dan itu adalah pelajaran agar dia bangkit dan menjadi bisa.

Manusia sering dihadapkan dengan kegagalan demi kegagalan. Kata orang kegagalan adalah sukses yang tertunda. Itu benar jika orang mau memetik pelajaran dan berinstropeksi mengapa dia gagal. Seorang siswa cerdas tidak akan selalu mendapat nilai sepuluh dalam pelajarannya, ada kalanya dia mendapat nilai 5. Tapi tinggal bagaiamana dia mensikapinya. Kalau dia juga memiliki kecerdasan emosional dia akan berfikir ke dalam, mengapa ini terjadi. Apa karena dia tidak belajar, tidak memperhatikan guru atau factor lainnya. Apabila sudah ditemukan akar masalahnya dia harus bisa memperbaikinya dan tidak mengulang kembali.

Masalah saat masa-masa remaja sebenarnya sudah cukup melelahkan, apalagi kalau meningkat ke masa produktif. Setelah lulus sekolah susah mencari kerja, saat kerja ditekan oleh rekan kerja, atau bahkan dikeluarkan dari pekerjaan. Semua harus dihadapi dengan hati yang jernih, sehingga dapat berfikir dengan sehat. Carilah apa yang menjadi pokok persoalannya dan dari mana sumbernya. Setelah semua teridentifikasi dengan baik barulah kita cari solusi yang terbaik. Apa yang perlu diubah, sebelah mana yang harus diperbaiki. Adapun langkah terakhir adalah action atau berjuang semaksimal mungkin untuk bangun dari keterpurukan itu agar menjadi berhasil.

Seorang manusia tidak akan berubah nasibnya tanpa dia mengubahnya sendiri. Ubahlah nasibmu dan berjuanglah untuk selalu menjadi lebih baik lagi. Fakhrudin Selengkapnya...

MERETAS JALAN KE KAMPUNG HALAMAN

Category:

Menunggu memang terasa melelahkan, itulah yang kurasakan saat ini. Setiap kali aku menengok kalender, masih aja bulan januari. Bulan Januari kok rasanya lama banget, padahal aku dalam kondisi ada kegiatan alias tidak menganggur. Aku ga bisa ngebayangin bagaimana jika sekarang aku tidak bekerja, mungkin akan terasa lebih lama lagi..

Selepas pemberkasan selesai perasaan ini tidak bisa aku hentikan, rasanya sudah pingin cepat-cepat ada di Purworejo kotaku tercinta. Sebenarnya bukan karena pekerjaan yang sudah menanti, tapi karena kecintaanku kepada kotaku itu. Sudah cukup aku menjadi pendekar kelana (hehehe…), yang berkelana dengan tujuan tak pasti.

Kalau bicara kepuasan sebenarnya tak akan ada habisnya. Sebenarnya pertama aku punya keinginan untuk bisa jelajah pulau jawa, dan akhirnya bisa tercapai juga (walau belum semuanya). Dengan sebagian besar sudah tercapai kok punya keinginan untuk keliling Indonesia, setelah dipikir-pikir dan ku mencari cara untuk mewujudkannya, ternyata tidak ketemu juga. Cukuplah keinginan pertamaku itu terwujud, karena jika yang kedua ini terwujud, pasti ada keinginan buat keliling dunia, hahahaha…..

Aku ingat dulu waktu aku menginjak kelas 1 SMU (SMU N 1 Purworejo), waktu itu aku mengungkapkan untuk keluar dari rumah (tidak tinggal dirumah). Satu alasan yang tepat digunakan adalah aku ingin di Pondok Pesantren (walaupun itu sebenarnya bukan alasan tapi keinginan juga). Bapak dan Ibupun mengabulkannya, sehingga aku mulai keluar dari rumah dan mondok di Ponpes Al Hidayah. Tapi ternyata kisahku di Ponpes Al Hidayah Cuma sebentar, aku cuma bertahan selama dua minggu, karena aku memutuskan untuk pindah ke sebuah Asrama yang dikelola oleh Bapak Kyai Khusni dan bernama Asrama Pelajar Islam At-Tin (sekarang Ponpes At-Tin). Walaupun akhirnya ketika kelas tiga SMU aku kembali tinggal dirumah karena konsentrasi untuk kelulusan.

Kisahku untuk keliling pulau jawa dimulai sejak aku tinggal di API At-Tin. Di API At-Tin ada acara tahunan berupa ziarah Walisongo, dan akupun mengikutinya dengan mengorbankan kesempatan untuk ikut tour ke Bali. Biaya untuk tour ke Bali bisa aku pakai untuk ikut acara ziarah tahunan sebanyak dua kali. Ziarah pertama yang aku lakukan benar-benar menziarahi makam sembilan wali, dengan demikian aku sudah hampir menjelajahi seluruh pulau jawa, dari Jawa Timur hingga Jawa Barat. Wlaupun untuk Jawa Barat baru sampai di Cirebon. Tapi pada ziarah tahun kedua tempatnya adalah di Banten lama, jadi sudah lengkaplah penjelajahanku dari ujung timur pulau jawa hingga ujung barat (walau cuma sebagian kecil).

Setelah lulus SMU aku kuliah di Yogyakarta tepatnya di Akademi Teknologi Kulit Yogyakarta. Secara otomatis aku harus kost karena jauh dari rumah, sehingga aku tidak tinggal lagi dengan Bapak dan Ibu. Di tempat ini pula kisah perjalanku berlanjut, dengan mengikuti kegiatan BEM (khususnya di Departemen Hubungan Luar) aku berkali-kali mendapat mandat untuk melakukan perjalan dinas keluar kota. Sebenarnya ada 7 Institusi sejenis dengan kampus ATK (di bawah Departemen Perindustrian) dan letaknya tersebar di Indonesia. Akan tetapi memang rizki yang diberikan padaku tidak untuk keluar pulau jawa. Aku hanya ikut di even-even yang ada di pulau jawa terutama Jakarta dan Bandung. Lumayan untuk sekedar bertualang dan meninggalkan penatnya kuliah.

Aku lulus kuliah pada awal tahun 2007 tepatnya tanggal 25 Januari (lulus ujian TA). Aku menunggu hingga bulan April dan akhirnya mendapat pekerjaan di Tangerang. Disana aku hanya bertahan kurang dari satu tahun, karena aku memutuskan uintuk pindah ke Bogor. Di Bogorpun aku tidak ada satu tahun aku pindah kerja lagi, walau tetep masih di kota Bogor. Selama berada di Jabotabek aku memanfaatkannya untuk jalan-jalan ke sudut-sudut kota Jakarta, tapi sempat main ke Bandung juga sih.

Setelah dua tahun setengah di Jabodetabek akhirnya aku hijrah ke Surabaya, dengan tujuan lebih mendekatkan diri ke rumah. Mungkin inilah takdir hidupku yang menggiringku untuk kembali ke Purworejo. Ternyata di kota Surabaya aku tak sesukses di Jabodetabek. Prestasi kerja yang kuperoleh selama di Surabaya jauh sekali ketika aku bekerja di Jabodetabek, oleh karena itu aku hanya mampu bertahan selama tiga bulan.

Dari Surabaya aku kembali ke Purworejo kota tercinta dengan status pengangguran. Tapi ketika kembali ke kota ini secerca harapan muncul dengan adanya pembukaan tes CPNS. Akupun mengikutinya dan dengan susah payah akhirnya diterima juga (baca posting sebelumnya “Sebuah Perjuangan”, red). Setelah diterima pun Allah masih memberikan jalan untuk memenuhi kebutuhan hidupku ini dengan memberikan pekerjaan di Tangerang (pabrik sandal) sebagai purchasing. Hanya syukur yang bisa aku ungkapkan pada Allah. Inilah jalanku untuk meretas kembali ke kampung halamanku di kota Purworejo tercinta. Selengkapnya...

SEBUAH PERJUANGAN

Category:

Saat ini aku sudah positif diterima sebagai CPNS Pemerintah Kabupaten Purworejo sebagai Penyuluh Perindustrian dan Perdagangan. Sungguh perjuangan yang sangat berat untuk mencapainya, dan itu harus benar-benar aku syukurin.

Perjalanan mencapainya benar-benar merupakan kombinasi yang sempurna dalam mencapai keinginan, yaitu usaha dan do'a. Tanpa campur tangan dari Allah aku ga yakin semua ini bisa terwujud. Aku bukanlah orang yang sangat cerdas, aku hanya orang dengan kecerdasan yang terbatas. Sehingga tanpa campur tangan dari-Nya semua ini tidak akan terjadi dalam hidupku.

Kisahnya berawal dari aku tidak diperpanjang lagi kontraknya dengan sebuah anak perusahaan BUMN di Sidoarjo. Entah namanya rejeki atau apa aku dapat kabar dari kakak sepupuku bahwa di Purworejo akan ada tes penerimaan CPNS dan ada formasi untuk jurusanku. Memang tidak dikira tidak dinyana, jurusanku selama ini adalah jurusan yang berkemungkinan kecil masuk dalam formasi penerimaan CPNS, walaupun sebenarnya kampusnya adalah kampus milik Departemen Perindustrian.

Dengan semangat 45 aku sudah mantap untuk mendaftarkan diri, walau belum tahu persyaratannya. Setelah cari-cari kesana kemari akhirnya dapat deh surat edarannya. Dan pada pendaftaran hari pertama aku langsung mendaftarkan diri lewat internet. Waktu itu pas hari Jum'at tanggal 30 November 2009 sekitar pukul 11.00 dan aku mendapat nomer pendaftaran 22.00005106. Hari berikutnya aku mengirimkan berkas fisiknya lewat kantor pos Purworejo. Tinggal tunggu seleksi administrasi deh.

Tanggal 23 November 2009 adalah pengumuman hasil seleksi administrasi. Aku mencoba membuka pengumumannya menggunakan hp, tapi ternyata tidak suport, uh payah. Akhirnya aku minta tolong saudara sepupuku untuk melihatnya di internet, alhamdulillah lolos. Dan aku yakin ini juga ada campur tangan dari Allah. Setelah pengiriman berkas, aku sowan ke tempat Bpk Kyai Husni yang merupakan guru spiritualku. Dari beliau aku diberika sejumlah doa dan Alhamdulillah selalu aku baca sehabis sholat. Walaupun begitu usahaku melengkapi dokumen merupakan unsur utama.

Hari Rabu tanggal 25 November 2009 pak pos datang membawa surat undangan mengikuti ujian. Tak kusangka aku mendapat nomer test 22.32542.00001. Dalam hatiku berkata ini pertanda baik, moga dengan nomer urut 1 menjadi keberuntungan buatku. Inilah titik awal perjuanganku untuk bisa menembus sebagai PNS kabupaten Purworejo.

Langkah pertama yang kulakukan adalah mencari soal-soal tes CPNS. Aku coba buat status di facebook, banyak teman menyarankan untuk download di internet. Tapi aku masih kurang yakin dengan ide tersebut, aku berinisiatif mencari dari teman-teman yang pernah ikut seleksi CPNS. Muncul nama Sukris, salah satu temen SMU yang ternyata teman Madrasah Diniyahku dulu. Dari dia kudapatkan contoh soal CPNS. Aku mengfotocopy soal yang aku pinjam tadi di toko buku Sukses, dan aku masih inget kata-kata ibu tukang fotocopynya, "Tak do'ake ketompo mas!" "Amin bu!" jawabku singkat. Tak cukup itu saja buatku, aku masih merasa kurang referensi soal. Alhamdulillah diberikan kemudahan oleh-Nya, dipertemukanlah aku dengan teman Madrasahku dulu lagi, namanya Ayza Noer dan dari dialah aku mendapat tambahan referensi soal. Tapi kali ini aku tak mengfotocopynya, berhubung duitku dah habis.

Contoh soal sudah kudapatkan, tinggal satu elemen penting lagi, yaitu do'a. Prosesnya sebenarnya sudah aku lakukan sejak tanggal 18 November 2009, karena saat itu bertepatan dengan tanggal 1 Zulhijah. Aku mengambil hikmah dari puasa sebelum Idul Qurban, dimana jika kita punya hajat dan ingin dikabulkan puasalah mulai dari tanggal 1 hingga 9 Zulhijah. Selain itu aku pun meminta do'a kepada Bapak Kyai Husni untuk kedua kalinya. Adapun langkah lain yang kujalankan adalah berziarah ke makam Gus Wildan Husni Rosyid (Putra Bapak Kyai Husni), makam Mbah Judi (kakekku sendiri) dan juga ke makam Mbah Imam Puro.

Dua faktor external itulah yang menurutku sangat berperan penting sehingga aku bisa mencapai tujuanku menjadi salah satu PNS di Kabupaten Purworejo. Tapi ada faktor internal yang paling penting dan merupakan akar dari semuanya, yaitu keniatan tekadku untuk bisa mengabdi kepada kedua orang tuaku yang selama ini telah aku buat susah. Dari keempat anak, menurutkku akulah yang paling banyak menghabiskan duit orang tua, paling merepotkan orang tua dan paling belum bisa menghasilkan apa-apa. Semangat itulah yang melecutku untuk sebagaimana mungkin dengan cara apapun akan aku tempuh.

Alhamdulillah dengan segenap usahaku diatas aku menjalani tes dengan dibri kemudahan oleh Allah. Seakan-akan soal itu terlihat mudah dan aku mantap ketika memberikan jawabannya.

Ihtiar sudah selesai aku jalankan, ya belajar hingga ikut tes dan mengerjakannya. Tinggalah kuberdoa lagi kepada Allah, dan untuk ketiga kalinya aku sowan ke Bapak Kyai Husni. Sambil menunggu pengumuman aku jalankan apa yang diajarkan oleh my Master Bapak Kyai Husni.

Di dalam Islam diajarkan untuk melakukan ihtiar sekaligus berdoa, dan itulah yang aku jalankan. Untuk masalaha hasil kita serahkan sepenuhnya kepada Allah, karena Dia lebih tahu mana yang terbaik buat hamba-Nya. Aku berfikiran seandainyapun aku tidak diterima berarti ada renca lain yang akan diberikan Allah kepadaku.

Tanggal 23 Desember 2010 semua penantianku akhirnya mendapat jawaban. Sekitar pukul 08.00 aku mendapat telepon dari Mbak Rina (istri dari Mas Wiwi kakak sepupuku) menanyakan tanggal lahirku. Ternyata namaku ada di pengumuman yang ia baca di koran Suara Merdeka. Kontan saja setelah aku terima telpon itu aku pergi ke mushola dan sambil berjalan aku menelpon Bapakku di rumah untuk memberi kabar bahagia tersebut. Sesampainya di Mushola tak kuat rasanya lutut ini untuk berdiri lagi, langsung ku sujud syukur menerima berkah ini. Akhirnya usaha dan doaku benar-benar bisa terwujudm, karena akhirnya ku bisa mengabdikan diri kepada kedua orang tuaku di rumah.

Terima kasih Allah, karena kamu sudah menepati janji-janji-Mu. Manusia bisa mendapatkan apa yang dia inginkan dengan usahanya dan dengan memohon pertolongan dari-Mu. (Fakhrudin) Selengkapnya...